-->

Iklan

Advertise with Anonymous Ads"/>

Diduga Gunakan Solar Subsidi, Perusahaan Konstruksi Asal Tiongkok di Batam Diminta Diselidiki APH

Fir Conet
Sunday, January 25, 2026, January 25, 2026 WIB Last Updated 2026-01-26T07:03:10Z



GENCARNEWS.COM, BATAM – Sebuah perusahaan konstruksi yang diduga dimiliki pengusaha asal Tiongkok di Kota Batam disorot publik. Perusahaan tersebut diduga menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi untuk kebutuhan operasional perusahaan. Aparat Penegak Hukum (APH) pun diminta segera turun tangan untuk melakukan penyelidikan.


Dari hasil penelusuran awak media, solar yang diduga merupakan solar subsidi itu dibeli dengan harga jauh lebih murah dibandingkan solar industri. Solar tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp360.000 per jerigen berkapasitas 35 liter, bahkan ada informasi harga Rp330.000 per jerigen. Harga ini dinilai tidak wajar dan menimbulkan kecurigaan, mengingat harga solar industri berada jauh di atas harga tersebut.


Solar tersebut diketahui diangkut menggunakan mobil jenis sedan, mirip mobil taksi lama, dengan muatan sekitar lima jerigen setiap kali pengangkutan. Aktivitas ini terpantau di kawasan Jalan Raya Sei Binti, Pelabuhan Sagulung, Kota Batam, pada Senin (26/1/2026).


Sebagaimana diketahui, penyalahgunaan BBM subsidi merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan keuangan negara. Praktik ini kerap dilakukan dengan berbagai modus, seperti pengangkutan tanpa izin, penimbunan, hingga penyaluran BBM subsidi ke sektor industri yang tidak berhak. Pelaku dapat dijerat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, dengan ancaman pidana penjara hingga 6 tahun dan denda maksimal Rp60 miliar.


Seorang pekerja di lokasi proyek, yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan, membenarkan adanya pengangkutan solar menggunakan jerigen.


“Kalau soal solar subsidi atau industri saya kurang tahu, Pak. Yang jelas solar itu diangkut pakai mobil sedan, diisi ke jerigen, biasanya lima jerigen sekali angkut. Soal harga, saya dengar ada yang Rp330 ribu dan ada juga Rp360 ribu. Yang lebih paham itu Marcel, bagian penerjemah bahasa dari orang Tiongkok,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa solar tersebut digunakan untuk kebutuhan operasional proyek konstruksi, seperti genset, forklift, dan alat berat (beko).


“Kami ini cuma pekerja biasa, Pak. Solar itu dipakai untuk genset kerja, forklift, sama beko. Kalau mau lebih jelas, tanya saja penerjemahnya,” tambahnya.


Saat ditanya terkait identitas perusahaan yang beroperasi, pekerja tersebut mengaku tidak mengetahui secara pasti.


“Yang kerja di sini orang Tiongkok semua, barang-barangnya juga dari sana. Kalau yang sudah jadi bangunan itu disewa PT Esun. Dulu katanya namanya PT Karya Stel Abadi, tapi sudah bangkrut dan dibeli pengusaha dari Surabaya. Sekarang saya kurang tahu detailnya,” tutupnya.


Sementara itu, Marcel, selaku penerjemah bahasa Tiongkok di PT Derap Bersama Abadi dan PT Cakrawala Metal Jaya, saat dikonfirmasi awak media pada Senin (26/1/2026), mengaku hanya berperan sebagai penerjemah.


“Kalau soal perusahaan, bapak hubungi saja Pak Jun. Saya hanya penerjemah bahasa. Kalau ada kebutuhan perusahaan, saya hanya membantu mencari, memesan, dan pembayaran dilakukan melalui transfer ke rekening yang bersangkutan,” ujarnya singkat.


Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan kepada pihak manajemen perusahaan serta APH terkait untuk memastikan kebenaran dugaan tersebut. Publik berharap aparat berwenang segera melakukan penyelidikan agar tidak terjadi penyalahgunaan BBM subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak.

Komentar

Tampilkan

  • Diduga Gunakan Solar Subsidi, Perusahaan Konstruksi Asal Tiongkok di Batam Diminta Diselidiki APH
  • 0

Terkini