-->

Pematangan Lahan di Sagulung Ancam Agrowisata, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan


GENCARNEWS.COM, BATAM – Aktivitas pematangan lahan di Kecamatan Sagulung, Kota Batam, menuai sorotan. Kegiatan tersebut diduga berdampak terhadap lingkungan sekitar, termasuk keberadaan Citra Kebun Wisata, destinasi agrowisata yang mengusung konsep perkebunan durian dan jambu.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Jumat (27/03/2026), timbunan tanah dari aktivitas cut and fill terlihat menggunung dan berada tidak jauh dari area wisata. Kondisi ini dinilai berpotensi mengancam keselamatan serta keberlanjutan lingkungan, terutama karena minimnya sistem drainase dan tidak adanya pengaman lereng seperti batu miring untuk mencegah erosi.



Kekhawatiran tersebut juga disampaikan Karang Taruna Kelurahan Sei Pelunggut melalui Divisi Lingkungan Hidup. Perwakilannya, Sandi Jambak, menilai aktivitas tersebut perlu mendapat perhatian serius dari instansi terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam.

Ia menegaskan, Karang Taruna hadir sebagai kontrol sosial yang berpihak pada kelestarian lingkungan, bukan kepentingan usaha tertentu. Menurutnya, aktivitas pematangan lahan berpotensi merugikan sektor agrowisata yang justru mengedepankan pelestarian tanaman dan kualitas lingkungan.

Selain itu, tingginya timbunan tanah yang berada dekat akses jalan dinilai membahayakan masyarakat. Kondisi drainase yang tidak memadai bahkan disebut telah memicu abrasi hingga merusak pagar pembatas di sekitar lokasi.

Sebagai langkah awal, Karang Taruna akan menempuh pendekatan persuasif dengan menyurati pihak perusahaan serta mengajukan audiensi kepada Dinas Lingkungan Hidup. Namun, apabila tidak mendapat respons, mereka membuka kemungkinan menempuh jalur hukum, termasuk gugatan legal standing atau class action.

Di sisi lain, pihak Citra Kebun Wisata yang terdampak langsung juga meminta perhatian pemerintah. Perwakilan pengelola, Udin, berharap pemerintah, baik BP Batam maupun Pemerintah Kota Batam, dapat memberikan tindakan tegas terhadap pihak pengembang yang dinilai mengabaikan dampak lingkungan.

Menurutnya, meskipun pihak pengembang telah memperbaiki tembok pembatas yang sebelumnya rusak, potensi dampak lain ke depan tetap menjadi kekhawatiran. Ia meminta pemerintah lebih peka terhadap kondisi masyarakat yang terdampak aktivitas tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengembang yang diduga bertanggung jawab atas kegiatan pematangan lahan belum memberikan keterangan resmi terkait legalitas maupun dampak lingkungan dari aktivitas tersebut.

0 Comments