GENCARNEWS.COM, KEPRI — Di tengah pesatnya transformasi kota-kota air di Asia Timur, Indonesia dinilai masih tertinggal dalam memandang air sebagai bagian penting dari identitas dan wajah kota. Hal ini disampaikan Abdullah Rasyid, mahasiswa doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN yang tengah menjalani studi strategis di Shanghai, Tiongkok.
Menurut Abdullah, pengalaman melihat langsung kawasan kota air Zhujiajiao di Shanghai membuka pandangan baru tentang bagaimana sungai dan kawasan perairan dapat menjadi pusat kehidupan kota. Di sana, air tidak sekadar menjadi latar belakang, melainkan “halaman depan” yang dijaga, ditata, dan dimanfaatkan sebagai ruang publik, pusat wisata, hingga penggerak ekonomi masyarakat.
“Zhujiajiao menunjukkan bahwa air bisa menjadi wajah kota yang bersih, tertata, dan bernilai ekonomi tinggi. Sungai di sana bukan tempat pembuangan, tetapi ruang hidup masyarakat,” ujarnya.
Ia menggambarkan bagaimana kawasan sungai di Zhujiajiao dipenuhi jembatan kuno, jalur pedestrian yang nyaman, taman kota, hingga aktivitas wisata perahu yang terintegrasi dengan tata ruang modern. Air menjadi bagian dari identitas kota yang dipelihara secara serius melalui regulasi ketat dan keterlibatan masyarakat.
Kondisi itu, kata Abdullah, sangat berbeda dengan banyak kota di Indonesia. Sungai, pantai, dan danau masih sering diposisikan sebagai “halaman belakang” yang identik dengan kawasan kumuh, sampah, bangunan liar, hingga pembuangan limbah.
“Masih banyak bangunan yang membelakangi sungai. Kawasan pesisir dan sempadan air justru dipenuhi aktivitas yang merusak lingkungan. Ini bukan sekadar masalah estetika, tetapi kesalahan paradigma dalam penataan ruang,” tegasnya.
Ia menilai sejumlah negara di Asia Timur dan Asia Tenggara telah jauh lebih maju dalam mengembangkan konsep waterfront city dan riverfront development. Kota-kota seperti Shanghai, Bangkok, Hanoi, hingga Ho Chi Minh City menjadikan sungai sebagai tulang punggung ekonomi, pariwisata, sekaligus ruang publik yang nyaman bagi warga.
Sementara Indonesia, yang memiliki lebih dari 70 persen wilayah perairan, justru belum mampu memaksimalkan potensi tersebut. Padahal, kota-kota pesisir dan tepian sungai di Indonesia memiliki peluang besar menjadi kawasan wisata dan ruang publik kelas dunia.
Abdullah mencontohkan Sungai Martapura di Banjarmasin, kawasan Danau Toba, Maninjau, hingga pesisir Makassar, Padang, dan Ambon yang dinilai memiliki potensi besar untuk ditata menjadi kawasan waterfront modern dan berkelanjutan.
“Air seharusnya menjadi jiwa kota, bukan sekadar batas kampung atau area belakang yang diabaikan,” katanya.
Ia menegaskan, perubahan besar harus dimulai dari keberanian pemerintah mengubah paradigma pembangunan kota. Penataan kawasan sungai dan pesisir harus diarahkan menjadi ruang publik yang bersih, hijau, nyaman, dan produktif secara ekonomi.
Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan regulasi yang mendorong bangunan menghadap ke air, memperkuat zonasi kawasan sempadan, serta membangun jalur pedestrian, taman kota, dan aktivitas ekonomi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.
“Indonesia punya peluang menjadi negeri kota air yang unik dan berkelas. Namun jika air terus diperlakukan sebagai halaman belakang, maka kota-kota kita akan terus identik dengan banjir, kekumuhan, dan ketertinggalan,” tutup Abdullah.

0 Comments